Sunday, 16 September 2012

Cerita #1 : You're Not Alone


Hujan masih mengguyur bukit yang mulai menghijau. Langit tak menampakkan keramahannya pada dunia hari itu. Guguran daun yang tergenang di air seakan menandakan masih akan turun hujan untuk waktu yang lama. Seorang pria memandang jauh dari jendela kamar rumahnya dimana matanya menemukan seorang gadis yang tak biasanya berwaja seperti itu. Lama ia mengawasi wajah gadis itu, sebelum ia menyadari jika hujan telah berhenti dan ia segera menyeret kakinya, setengah berlari untuk mencapai gagang pintu rumah dan menariknya terbuka.

Pekarangan rumah yang sepi menyambutnya dengan hembusan angin musim dingin. Ia terus berjalan menyusuri jalanan kompleks perumahan dan berharap ia masih menemukan gadis yang sedang melamun di bangku taman. Saat ia sampai di taman, pria itu tertegun melihat seorang gadis basah kuyup yang sedang duduk di sana sambil mengamati awan. Meski ragu ia berusaha mendekati gadis itu dengan wajah ramahnya.
“Hi, Je..,” sapanya dengan suara yang sedikit lirih, “Kau kenapa?”
“Bukan urusanmu!,” potongnya namun tak mengalihkan pandangan.

Meski Jesica menjawabnya dengan kurang ramah ia tak ingin meninggalkan gadis itu sendirian di taman yang sepi itu. Tak lama kemudian Jesica menundukkan wajah, menghela nafas panjang dan bergumam lirih kepada dirinya sendiri. 
"Ini sangat mirip dengan yang sebelumnya. Kau datang disaat aku benar-benar ingin sendiri. Bisakah kau tidak selalu mencampuri urusanku, Steve?" suara Jesica datar dan masih tidak mengarahkan pandangan pada Steve.

Steve duduk diam di samping Jesica, menatapnya dengan tenang karena ini bukanlah hal baru baginya. Sudah berkali-kali gadis ini menyendiri dan selalu bilang dia tidak punya keinginan untuk hidup. Wajar saja kalau Jesica memiliki pemikiran seperti itu. Permasalahan yang dihadapi gadis ini tidaklah mudah. Mulai dari keluarga yang broken, sifat jelek yang membuat dia tidak memiliki teman, pria-pria yang datang sebagai kekasih namun hanya penuh dengan kebohongan, dan lain sebagainya. 

Ini tidak lagi membingungkan Steve yang dari kecil dengan setia ada di saat-saat sulitnya. Bahkan ketika Jesica ingin mengakhiri hidup ketika mengetahui kekasihnya Jhon berselingkuh dengan bukti kehamilan Emma. Itu tidaklah mudah bagi seorang wanita tentunya.

Liburan ini hanya tinggal satu minggu bagi Steve. Setelah itu ia harus berangkat keluar kota untuk melanjutkan pendidikan. Betapa membosankan liburan Steve yang hanya dihabiskan untuk mendengar cerita tragis kehidupan Jesica. Tapi Steve tidak pernah berusaha untuk menghindarinya.
"Yeah, aku tidak pernah ingin tau. Kau yang selalu dengan sukarela memberi tahu aku." dengan nada suara sabar, Steve berusaha meyakinkan Jesica. "Jadi, apa ceritamu liburan ini?"

Wajah itu masih menerawang tidak terlalu menghiraukan Steve.
"Aku tidak punya apa-apa..." jawabnya lirih.
"Itu sudah berkali-kali kau katakan. Aku sudah bosan, ada kata-kata lain?" Steve mencoba mencairkan suasana.

Untuk pertama kalinya wajah pucat gadis itu menoleh ke arah Steve dan membuat Steve menyesali perkataannya. Seandainya tidak dipenuhi rawut putus asa, wajah itu pastilah sangat cantik.
"Dan kali ini aku pikir kamu akan tahu..." jawab Jesica tegas. "Semuanya sama saja, busuk, penuh dengan kebohongan, tak seorangpun menginginkanku........!" mata Jesica mulai berkaca.

Steve hanya diam terpaku, bingung dan tak tau harus berkata apa.

"Aku heran kenapa aku masih ada di sini. Aku pikir kau tau jawabannya. Kau tau jawabannya?" tanya Jesica seperti orang yang mulai hilang akal sehat. Ia mulai menangis dalam dekapan tangannya.

Seperti sesuatu yang benar-benar penuh dan meluap-luap ingin segera dimuntahkan. Bertahun-tahun sudah Steve berada dalam kondisi yang memenjarakan hati dan perasaannya. Dan ia ingin Jesica tau apa yang dari dulu harus ia ketahui dan harus ia sadari.
"Dari perjalanan panjang itu, setelah waktu memperkenalkan dan menyatukan, lalu memisahkan, kemudian mempertemukan kembali. Aku sepenuhnya yakin bahwa, kau tercipta di dunia ini....
untuk menjadi belahan hati dan jiwaku, untuk menjadi bagian dalam hidupku, menjadikan kau untuk menemani seluruh hidupku, sedari sadar hingga terlelap, sedari lamunan hingga dalam mimpi, aku sepenuhnya percaya …
Sayangnya, aku belum mengetahui apakah aku pun demikian dalam hidupmu?
Mungkin perlu perjalanan lebih panjang, lebih berliku …
supaya waktu bisa mengenal lebih dekat, untuk menyatukan dan tak memisahkan,
aku percaya …", ucapan Steve terhenti ketika Jesica mendekatkan wajah dan mencium lembut bibirnya.

Udara dingin tak terasa lagi oleh mereka berdua ketika pelukan itu terasa kuat dan hangat. Jesica begitu tenang ketika mendengar bisikan Steve, "You are not alone...".

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
One Piece Logo One Piece Logo Blacy Smiley - Exciting